Peluang Besar Bisnis Hidroponik di Perkotaan

Peluang Besar Bisnis Hidroponik di Perkotaan

Meningkatnya tren gaya tumbuh sehat membuka peluang usaha gres. Yakni, sayuran hidroponik. Khususnya dalam perkotaan. Sayangnya, membuat kebun flora hidroponik ternyata tak mudah. Salah perhitungan bisa gagal total. Bersemangat untung, justru buntung yang didapat.

—

KEBUTUHAN kepada sayuran hidroponik terus meningkat. Terlebih pada masa pandemi sekarang. Tumpuan pasarnya jelas, yaitu warga perkotaan. Hanya, tak banyak produsen sayuran hidroponik yang tumbuh di tanah air. Sebagian besar di antara mereka adalah distributor. Sayuran diambil daripada beberapa daerah.

Misalnya, di Surabaya, sayuran hidroponik diambil dari Lumajang, Malang, Jember, maka Banyuwangi. Tentu diperlukan biaya operasional yang cukup besar. Berbeda halnya jika kebun hidroponik berada pada wilayah perkotaan. ”Cuma ya begitu, risikonya cukup besar, ” prawacana Ketua Perhimpunan Petani Hidroponik Nusantara (PPHI) Sunandar Triwibowo.

Ada beberapa tantangan jika membuka lahan hidroponik di perkotaan. Bukan hanya masalah lahan, tetapi serupa suhu dan kelembapan. Cuaca dengan panas berpengaruh pada kelembapan. Di samping itu, kualitas sumber daya manusia (SDM) harus oke. Dibutuhkan ketelatenan dan pengalaman khusus.

Menurut Sunandar, kebun hidroponik skala rumahan harus dibedakan secara industri. Khusus di Surabaya, zaman ini belum banyak hidroponik dengan dikelola secara industri. Yang ada hanya di kampung-kampung dan biasanya karena hobi saja. Apalagi, saat pandemi sekarang, banyak orang yang mengalihkan aktivitas untuk berkebun.

Perawatan hidroponik memang susah-susah gampang. Kesalahan sedikit bisa fatal. Misalnya, kebutuhan air. Sayuran hidroponik tak bagus jika menggunakan tirta PDAM. Nah, itulah kendala di perkotaan. Kualitas air tanahnya pula kurang baik. Salah satu caranya, sumur harus digali lebih dalam.

Karena itu, simpanan yang dikeluarkan juga cukup mulia. Sunandar menyebutkan, untuk skala pabrik kebun seluas 100 meter, ongkos awalnya bisa mencapai Rp 80 juta. Bila ingin berbisnis, sekalian yang besar agar hasil yang diperoleh bisa maksimal.

Menurut dia, pasar sayuran hidroponik akan terus prospektif. Apalagi, penuh penduduk urban yang beralih ke gaya hidup sehat. Karena tersebut, banyak sekali resto, kafe, serta hotel yang memakai sayuran hidroponik. Belum lagi, banyak permintaan sebab pasar modern. ”Memang sangat menjanjikan, ” terangnya.

Sunandar mengungkapkan, ada beberapa hal yang membedakan kebun hidroponik skala pabrik dan rumahan. Selain ukuran kebunnya, penanganannya juga beda. Pada rasio industri, hanya orang tertentu dengan boleh masuk. Tujuannya, menghindari terpaparnya hama. Sebab, sayuran hidroponik mudah-mudahan terserang penyakit.

Pemimpin Kampung Hidroponik Surabaya Renni Susilawati menjelaskan, dirinya hanya menjalankan bisnis hidroponik skala rumahan. Meski begitu, hasil yang didapat cukup lumayan. Dari 12 media tanam hidroponik, setidaknya dia meraup Rp 3 juta–Rp 4 juta dalam sebulan. Biaya produksinya sekitar Rp satu, 2 juta. Nah, sebagian hasilnya dibagi dengan petani dan dimasukkan ke kas RT/RW. Sebab, beberapa biayanya juga berasal dari kas RT/RW. ”Yang paling digemari ya sawi dan selada, ” ungkapnya.

Baca selalu: “Jinakkan” Tomat Ceri dengan Metode Hidroponik Rakit Apung

Menurut Renni, pihaknya masih kekurangan produksi untuk menyuplai konsumen. Sejauh ini pemasaran penuh dilakukan di lingkungan sekitar. Sisanya baru dijual. Selain peluang pasar yang masih besar, bisnis hidroponik tak perlu lama menunggu era panen. Sebab, sekitar dua minggu hasilnya sudah bisa terlihat. Makin, jika sudah lama, panen sanggup dilakukan per hari atau seminggu sekali. ”Yang penting adalah pengelolaannya, ” tegasnya.


MENGAPA PERLU BERTANAM HIDROPONIK?

  • Tingginya gaya hidup sehat.
  • Konsumsi makanan sehat meningkat.
  • Permintaan di pasar lebih tinggi daripada produksi.
  • Sayuran masih dipasok luar daerah.
  • Masa panen sayuran hidroponik lebih singkat.
  • Banyak konsumen di kota.
  • Pangsa pasar yang langsung bertambah.

KENDALA YANG DIHADAPI

  • Lahan yang terpatok.
  • Suhu dan iklim terik.
  • Terkendala SDM yang kurang telaten.
  • Kualitas air tanah kurang cakap.
  • Butuh perawatan ekstra.
  • Modal awal cukup besar.

Saksikan video menarik berikut itu:

Patrick Stewart

Related Posts

fallback-image

Pertikaian dengan Kelompok Separatis Mengejawantahkan Stagnasi di Papua

fallback-image

Pemkot Surabaya Larang Tradisi Takbir Keliling dan Open House

fallback-image

Polemik Alih Status Pegawai KPK Jadi ASN, Perkom Lampaui Undang-Undang

fallback-image

Hobi Baking Kue, Intip Selera BCL Saat Kirim Hampers Lebaran