Mau Objektif, Novel Tegaskan Proses Sidang Bukan Semata Balas Dendam

Mau Objektif, Novel Tegaskan Proses Sidang Bukan Semata Balas Dendam

JawaPos. com – Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mencagarkan perkara hukum penyiraman air tulang yang menimpanya dapat berjalan dengan objektif. Menurut Novel, persidangan sebenar-benarnya adalah membuktikan apa yang sesunggunya terjadi dan menjatuhkan hukuman yang tepat.

“Menegakkan dasar harus berbasis pembuktian secara adil. Bukan sekedar mencari orang dengan mau dihukum sebagai balasan, ” katanya, Kamis (18/6).

Novel kembali menegaskan bahwa kalau kesaksian dua terdakwa penyerangnya, yaitu Rahmat Kadir dan Ronny Bugis, tidak bisa menjadi alat dengan kuat, Novel lebih rela keduanya dibebaskan ketimbang harus terus berlaku drama dalam ruang sidang.

“Tidak perlu harus merekayasa dan menipulasi fakta sedemikian laku agar sesuai. Justru itu bisa jadi praktek peradilan sesat, ” kata Novel.

Buat diketahui, dua terdakwa kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette dituntut hukuman satu tahun pidana penjara oleh Jaksa Penggugat Umum (JPU). Keduanya dituntut Pasal 353 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Meski persidangan Novel masih belum ketuk palu, tuntutan tersebut langsung menimbulkan diskusi di kalangan masyarakat luas. Umum dibuat bingung dengan rendahnya tuntutan tersebut, padahal aksi penyiraman minuman keras itu sudah merusak serampangan Novel dan membuatnya nyaris melanda.

Beberapa pihak asing, termasuk Novel, pernah menyatakan syak wasangka mereka tentang keterlibatan Ronny dan Rahmat dalam kasus ini. Mereka yakin, aktor intelektual di balik peristiwa ini masih melenggang bebas pada luar sana.

Post oleh Result HK

Patrick Stewart

Related Posts

fallback-image

Walau No 1 Dunia Tumbang, Jepang ke Final secara Sikat Malaysia 3-1

fallback-image

Liriknya Dijadikan Lawakan, Pencipta Lagu Harta Berharga Geram

fallback-image

Jalani Operasi Bentall, Chef Haryo dan Istri Baca Ciri Nabi Ayub

fallback-image

Varian Covid-19 Masih jadi Gertakan, 3 Prokes Ini Wajib Dipatuhi