Kehati-hatian Sekolah dalam Pertemuan Tatap Membuang

Kehati-hatian Sekolah dalam Pertemuan Tatap Membuang

MENTERI   Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengeluarkan kebijakan terkait dengan pembelajaran tatap muka (PTM) di pusat pandemi. Mas Menteri, sapaan karibnya, kini memperbolehkan –bukan mewajibkan–pembelajaran tatap muka di sekolah mulai semester genap tahun ajaran 2020–2021 ini. Pihaknya sudah mengevaluasi hasil SKB empat menteri sebelumnya. Ia tahu situasi kekinian bahwa hanya 13 persen sekolah yang melakukan penelaahan tatap muka dan 87 upah masih belajar dari rumah (Jawa Pos, 21/11).

Pemerintah daerah dan pemerintah pusat berfokus pada persiapan infrastruktur, protokol kesehatan/SOP, sosialisasi protokol/SOP, dan sinergi jarang dinas pendidikan dengan dinas kesehatan serta gugus tugas Covid-19 pada daerah. Jika sekolah belum mampu memenuhi infrastruktur dan protokol atau SOP, praktik PTM di madrasah harus ditunda dulu.

Yang tersurat dari kebijakan tersebut, penentu kebijakan akhir tentang PTM adalah hasil kajian di madrasah masing-masing terkait dengan kesiapan di dalam mengantisipasi faktor risiko yang mengikutinya. Dalam hal ini kepala madrasah, komite, dan orang tua dengan menentukan siap tidaknya untuk melakukan layanan pendidikan dengan metode tatap muka.

Sinyalemen ini memang harus dicermati secara khusyuk oleh pihak sekolah. Jangan sampai keputusan untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka diambil hanya karena ikut-ikutan atau gengsi belaka. Pengkajian dengan komprehensif tentang kesiapan sekolah untuk melaksanakan protokol kesehatan yang teliti adalah hal utama. Tidak menetapkan memaksakan diri untuk menyelenggarakan penelaahan tatap muka kalau memang belum siap.

Di Jawa Timur, regulasi tentang tatap depan ini sebenarnya telah dikeluarkan walaupun konteksnya uji coba. Melalui Surat Edaran Gubernur Jawa Timur No 420/11350/101. 1/2020 tentang Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka Terbatas Tinggi SMA/SMK/SLB di Jawa Timur tertanggal 9 Agustus 2020.

Pada praktiknya, pembelajaran tatap membuang dengan protokol kesehatan pun sudah mendapat lampu hijau mulai 18 Agustus. Kala itu, praktik penelaahan tatap muka diregulasikan berdasar sebutan zona persebaran Covid-19 yang tersedia di kabupaten atau kota. Daerah yang berpredikat zona merah tidak diperbolehkan menyelenggarakan pembelajaran tatap muka, zona hijau maksimal 50 obat jerih siswa yang belajar di dalam kelas, dan zona kuning 25 persen.

Berdasar regulasi baru Mas Menteri Nadiem Makarim, penerapan belajar tatap muka tak lagi ditentukan dari kategori kawasan per daerah, namun pada kesiapan sekolah. Kesiapan yang utama ialah penerapan protokol kesehatan yang benar ketat dan sempurna, termasuk tes kesehatan. Minimal rapid test buat siswa dan guru.

Untuk protokol jaga jarak, sedikitnya 1, 5 meter dan maksimal 18 peserta didik/kelas (standar 36 peserta didik/kelas). SLB: jaga langkah minimal 1, 5 meter & maksimal 5 peserta didik/kelas (standar 5–8 peserta didik/kelas). PAUD: bangun jarak minimal 1, 5 meter dan maksimal 5 peserta didik/kelas (standar 15 peserta didik/kelas). Benar disarankan agar di meja anak terpasang sekat transparan di bagian depan, samping kanan, dan kiri.

Menyikapi terbukanya genahar PTM ini, hendaknya guru memilah materi untuk diajarkan ke murid yang sedang belajar di sekolah maupun di rumah. Sebaiknya pelajaran PTM adalah materi dengan level kesulitan tinggi dan membutuhkan petunjuk guru secara langsung. Sedangkan bahan PJJ adalah materi yang bani bisa belajar secara mandiri.

Terkait dengan jadwal penelaahan, jumlah hari dan jam membiasakan dengan sistem pergiliran rombongan membiasakan (sif) ditentukan oleh masing-masing dasar pendidikan sesuai dengan situasi dan kebutuhan. Untuk sif yang dilakukan, selayaknya kelas dibagi sesuai dengan porsi persentase yang digariskan, bukan masuk pagi dan siang. Pokok, kerentanan bagi siswa untuk berkerumun antara sif siswa yang kembali dari sekolah dan yang bakal masuk sekolah akan menambah permasalahan baru.

Demikian halnya dengan regulasi menggunakan masker kain nonmedis tiga lapis atau dua lapis yang di dalamnya diisi tisu dengan baik serta diganti setelah digunakan selama empat jam atau ketika sudah lembap. Cuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer. Menjaga jarak minimal 1, 5 meter dan tidak melangsungkan kontak fisik. Untuk kondisi medis warga sekolah, mereka harus di kondisi sehat dan tidak mengidap komorbid.

Terkait dengan kantin, sementara waktu seyogianya tidak diperbolehkan beroperasi. Kegiatan olahraga dan ekstrakurikuler juga tidak diperkenankan. Intinya, kegiatan selain belajar-mengajar tidak diperbolehkan. Termasuk orang tua menunggui siswa di sekolah. Kepala satuan pendidikan tetap melakukan pengisian daftar periksa. Harus ada sarana sanitasi dan kejernihan, antara lain toilet bersih dan sarana cuci tangan dengan minuman mengalir menggunakan sabun atau cairan pembersih tangan (hand sanitizer).

Yang tak kalah penting adalah surat izin dari orang tua. Surat izin ini mampu jadi berposisi sebagai panglima. Regulasi sekolah menyediakan layanan pendidikan secara daring bisa dilemahkan kala orang tua tidak memberikan izin pada anaknya untuk mengikuti pembelajaran secara tatap muka dengan alasan pertimbangan bahaya atau risiko penularan.

Bagi orang tua dengan selalu mengontrol kesehatan anaknya, mengabulkan proteksi terhadap kerentanan tertular serta menularkan virus ini, rasanya pantas juga disebut pahlawan. Sejatinya, sirkulasi virus Covid-19 semakin tinggi selalu karena kurang arifnya seseorang. Misalnya, ia telah merasakan simtom ataupun gejala yang mengarah pada Covid-19, namun tetap saja berkeliaran, berinteraksi dengan orang lain. Dia tidak memedulikan risiko yang ditanggung orang lain yang berinteraksi sosial dengannya.

Kehati-hatian, kejelian, serta kearifan adalah hal wajib di menghadapi kebijakan Mas Menteri. Aliran jernih dan bijaksana tak boleh terkesampingkan oleh euforia menyikapi terbukanya keran PTM, yang bagi kiai dan siswa dirasa bagai seteguk air di padang tandus.   (*)


*) Agus Setiawan, Guru SMAN 1 Driyorejo

Saksikan gambar menarik berikut ini:

Patrick Stewart

Related Posts

fallback-image

Walau No 1 Dunia Tumbang, Jepang ke Final secara Sikat Malaysia 3-1

fallback-image

Liriknya Dijadikan Lawakan, Pencipta Lagu Harta Berharga Geram

fallback-image

Jalani Operasi Bentall, Chef Haryo dan Istri Baca Ciri Nabi Ayub

fallback-image

Varian Covid-19 Masih jadi Gertakan, 3 Prokes Ini Wajib Dipatuhi