Borok, No! Tokek, Yes!

Borok, No! Tokek, Yes!

SEPERTI yang sudah dijanjikan dalam kitab mereka, suangi ini akan muncul rangkaian bintang di langit yang membentuk bukti lobster. Perdebatannya, rasi itu nanti menyerupai sosok lobster dewasa barang apa benih lobster?

Bajul yang baru belajar meniup suling meliuk-liukkan nada serulingnya dari batang pohon tebu. ”Mari selalu kita jaga toleransi antara pengiman lobster dewasa dan pengiman lobster bayi, ’’ seekor badak bercula peluit batang pohon kangkung coba mengalih bahasakan alunan seruling dari muara itu.

”Lho, aku invalid toleran bagaimana? Agamaku lobster kala. Toh, tetap saja kuhormati para-para landak yang agamanya lobster budak. ”

Para landak segera mendirikan bulu duri dalam tubuhnya. Pertanda mereka protes. Salah satunya berpekik, ”Monyet itu bohong. Monyet itu percaya bahwa komitmen yang tak kunjung muncul semenjak zaman kakek-buyut kita akan lahir pada generasi kita dalam bentuk lobster dewasa. Yang tak seiman dia olok-olok! ”

Badak menangkap ada perubahan sinar di mata monyet. Makhluk bercula suling galih kangkung itu segera memahami gelagat. Dengan bahasa kode wajahnya, dimintanya seluruh hewan menatap langit. Seluruhnya menurut tanpa memafhumi untuk apa menuruti menatap langit sebelum tengah malam, sebelum datangnya lambang lobster yang dijanjikan.

Sejatinya barusan cuma akal-akalan badak untuk mengalihkan perhatian. Tepatnya, muka badak tadi berekspresi demi mengalihkan perasaan bersama bahwa akhirnya kehidupan demokrasi di negeri rimba raya ibarat primadona. Sang primadona bersila dengan lima sila pada tengah-tengah lingkaran api unggun dengan lingkarannya makin lama makin kecil.

Tanpa sepengetahuan Raja Singa Sastro, Ratu Singa Jendro mengirim seekor tokek ke pusat rakyatnya yang sedang berdebat mengenai keyakinan itu. Tokek belang telon dengan warna bak kucing tersebut bisa berceramah. Ia tak serupa tokek-tokek mainstream yang cuma piawai menjawab ”ya” atau ”tidak” atas pertanyaan umat. Suara ”tokeeek” di dalam hitungan ganjil berarti ”ya”. Yang genap berarti ”tidak”.

Umat, dengan juru bicara kadal, bertanya, ”Sejatinya, negara masih beruang atau tidak? ”

Para tokek menjawab ”ya” serta ”tidak”, tergantung tiap golongan memulai hitungannya sejak suara ”tokeeeeek” keberapa dari reptil itu. Ada dengan ketukannya berakhir dengan ”ya”. Akan tetapi, ada minoritas yang iramanya berakhir dengan ”tidak”.

Sejuta umat, dengan juru bicara suku seribu, bertanya, ”Sesungguhnya, masih cukupkah persediaan pangan sehingga kita tak perlu repot-repot mencetak hutan mutakhir? ”

Rakyat bingung bukan saja karena start hitungan suara tokek mereka sangat berbineka, tapi karena tokek tersebut pada beberapa bagian tidak utuh mengucap ”tokeeeek”. Dia mengucap ”toooo…”, berserakan berhenti lama, kira-kira selama 99 kali pengucapan ”penjahit seragam sekolah gigit jari karena anak-anak sedang bersekolah online”, baru tokek itu mengucap ”keeeeeeek”.

Nah, polemik timbul di belantara. Bahana ”tooo” yang sudah bercerai sejak bunyi ”keeeek” itu menurut pendirian dihitung satu kesatuan seperti ”NKRI”, atau dihitung pecah?

Sejak itu rakyat meninggalkan orator dari golongan tokek. Sayangnya, borok baru kiriman ratu yang ceramahnya bisa bernarasi juga tak berterima. Ceramahnya tentang lobster atau budak lobsterkah yang bakal bersinggasana dalam langit tengah malam nanti mutlak tak digubris.

Kenapa? Karena ceramahnya serius. Pertanda ilmunya belum mendalam. ”Di sirkus, senior pelatih dan ilmunya sudah cakap, itulah yang jadi badut, ” info dari harimau. Ini dibenarkan oleh gajah-gajah. Mereka dulu hewan-hewan sirkus yang kembali masuk hutan jauh sebelum apa yang dijanjikan akan bertengger di langit tengah malam ini. (*)


*) Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Patrick Stewart

Related Posts

fallback-image

Pergeseran Meningkat, Pemerintah Ingatkan Daya Lonjakan Covid-19

fallback-image

Pengunjung Mal Anak-Anak Meningkat 30–40 Persen

fallback-image

KY Apresiasi DPR Sahkan tujuh Hakim Agung, Berikut Daftarnya

fallback-image

Penembakan Brutal di Kampus, 8 Tewas, Mahasiswa Lompat daripada Jendela