Anak Usaha Barito Pacifik Raih Rating Stabil Untuk Obligasi Lingkungan

Anak Usaha Barito Pacifik Raih Rating Stabil Untuk Obligasi Lingkungan

JawaPos. com – Lembaga pemeringkat Moody’s Investor Service dan Fitch Ratings memberikan rating Investment Grade yakni Baa3 dan BBB- untuk senior secured bond yang akan diterbitkan sebab Star Energy Geothermal Drajat II Limited dan Star Energy Geothermal Salak, Ltd.

Prospek kedua rating untuk obligasi berwawasan lingkungan atau green bond yang dijalankan oleh dua entitas daya Anak usaha PT Barito Pacific Tbk (BRPT), berada di gaya stabil.

Rating investment grade ini menggambarkan kualitas sebab surat hutang yang dianggap jalan dan minim resiko, yang dikeluarkan oleh perusahaan yang reliable. Green bond global senilai USD 1, 11 miliar tersebut rencananya bakal diterbitkan dalam waktu dekat.

Green bond atau surat hutang “hijau” adalah salah mulia tipe instrumen investasi surat hutang yang dikeluarkan oleh perusahaan yang memiliki jejak karbon rendah (low carbon footprint).

Berdasarkan informasi yang ditulis oleh Investopedia. com, green bond pertama kali dikeluarkan oleh World Bank pada tahun 2009, dan sampai 2019, telah terdapat USD 157 milyar green bond yang dikeluarkan sebab berbagai entitas di seluruh negeri.

Star Energy bakal menggunakan dana obligasi global untuk melunasi sejumlah utang. Sebagian juga dananya akan dialokasikan untuk belanja modal, modal kerja, dan keinginan lain yang terkait dengan operasional geothermal.

Analis Senior CSA Research Institute, Reza Priyambada memandang, pemberian rating dari Moody’s dan Fitch merupakan berita nyata bagi Star Energy, khususnya bagi BRPT yang merupakan induk daya dari Start Energy.

“Karena pemberian rating ini pada posisi stabil, mereka melihat adanya kecukupan arus kas yang dimiliki BRPT. Jadi akan memberikan efek yang bagus pada penerbitan obligasi dari Star Energy, ” ujarya dalam keterangannya, Jumat (2/10).

Reza menuturkan, pelaku pasar juga akan menyambut positif penerbitan obligasi tersebut. Hal itu terlihat dari alokasi dana yang mau digunakan oleh entitas BRPT tersebut. “Sudah terlihat dana alokasinya mau digunakan apa saja, makan akan terlihat dampaknya ke Star Energy, yang nantinya akan mempengaruhi kinerja BRPT, karena BRPT merupakan sari usaha, ” tuturnya.

Dia menegaskan, secara garis gede pemberian obligasi ini akan menunjang operasional Star Energy dalam membentuk energi terbarukan di Indonesia. “Apalagi dapat eksklusif gitu obligasinya, Oleh sebab itu selling point atau nilai jual, bagi pelaku pasar dan teman-teman analis, ” imbuhnya.

Saat ini, Star Energy mempunyai kapasitas produksi listrik sebesar 875MW yang terdiri dari kapasitas sejumlah 227 MW dari PLTP Wayang Windu, kemudian 377 MW pada Salak, dan sebesar 271 MW di Darajat.

Patrick Stewart

Related Posts

fallback-image

Pertikaian dengan Kelompok Separatis Mengejawantahkan Stagnasi di Papua

fallback-image

Pemkot Surabaya Larang Tradisi Takbir Keliling dan Open House

fallback-image

Polemik Alih Status Pegawai KPK Jadi ASN, Perkom Lampaui Undang-Undang

fallback-image

Hobi Baking Kue, Intip Selera BCL Saat Kirim Hampers Lebaran